C'est moi

Nom: Maréchal Octavianus
Âge: 20 ans
École: Faculté de Denstistry, Université Trisakti Jakarta
Date de naissance: Jakarta, 1 Octobre 1987
Zodiaque: Libra

About Me

seseorang dengan pikiran abstrak,absrud,dan kadang menggeltik untuk ditelaah lebih lanjut seluk beluk konsepsi pikirannya.. Seseorang dengan perasaan yang selalu bertanya2 tentang sesuatu esensi dan makna dari sesuatu yang sebenarnya tidak perlu ditanyakan... Seseorang yang memiliki keanekaragaman teori mengenai suatu perencanaan yang membangun dan tak pudar dimakan zaman... Seseorang yang selalu memperjuangkan inkredibilitas yang membumbung tinggi pada dirinya,kreativitas yang menjembatani antara memori dan logika,loyalitas yang terpatri dalam citranya,sampai sensualitas yang menuai derap kagum... Seseorang yang mampu mengilhami keberadaan eksistensi dirinya.....


Seaku-akunya aku, Aku mengaku bahwa diriku butuh pengakuan atas seorang aku karena sesuatu yang perlu diakui karena keakuanku, seorang pengaku yang terombak atas ketidakakuannya dan atas segala benih keabstrakkan dari seorang "Aku"..Biarkan diriku jadi belenggu seorang aku yang masih mengaku sampai kaku.. aku..aku..tetap mengaku... AKU...

Que disent-ils de moi?

    " Marshal is alive. he Does do something. The directive in life, the moral imperative was so uncomplicated. It could be expressed in single words, not complete sentences. It sounded like this: Look. Listen. Choose. Act. He moves ! " - Washington Post -
    "four thumbs up" -Times-
    "sempurna! Berkarakteristik sejati. Originalitas tingkat tinggi" - KOMPAS-
    "Karya seorang Maestro dunia. Pengukuhan jati diri yang sangat luar biasa. Salut untuk beliau!"- METRO TV-
    "delightfull,cheer,fun,an incredible amazing story" - US weekly-
    "Artistic, hillarious, a really fascinating story"- Mirror-
    "He's positively charming, elegant, and bloody extravagant" -Queen Elizabeth II-
    "He's...One word. Insane!" -Bono U2-
    "Don't ever ever u publish ur blog into ur book.For my sake.Plis dont!" -JK.Rowling which has been petrified,motrified,stupified by me..hihihi
    "..He's damn inspiring me a lott..could i meet this gorgeus guy ??" - Oprah Winfrey-
    "..So damn multitalented person which has so so much fun to share..he's nice person,and we're having such really great times.." - Angelina Jolie-
    "MAnnyyuuuusss...Nuenndang banget ceritane..Apikkk tenan iku.."-Bondan Winarno for WISATA KULINER-

WE're hanging out:

  • TepPi aLVanIAcS

  • ErNeSt

  • OnenX

  • ReInAlDo

  • AYuNKx

  • PiA


  • Shout Outloud :


    Free shoutbox @ ShoutMix

    top sites connexes

    YahOOOO
    GOoooGLe
    Blogskins.com
    FreNSteR
    DETIK.com
    2 1
    WikiPediA
    HTML Color Codes
    Shoutmix
    PhotobuckEt <

    Aventure avec Zarathurza

    HEAVEN IS LOVE...Stephanus & Dien
    Huh... The Long Day is Overrrr .. ITS A WRAP!!
    Moodys Mood For L. O. V. E
    Paralyzed.. (Again)...
    Perempuan: Arghh.Its complicated
    Marshal in Alphabet
    Moodys Mood For Laugh
    Pernahkah anda berpikir tentang arti dari sebuah K...
    BEING GARLIC IS NOT SO ME!!!
    R.E.S.P.E.C.T

    Take Out Boxes


    June 2005


    July 2005


    September 2005


    October 2005


    November 2005


    December 2005


    March 2006


    June 2006


    July 2006


    October 2006


    November 2006


    January 2007


    February 2007


    May 2007


    July 2008

    Wednesday, July 02, 2008

    Balada Sosialita



    Jakarta. Terik. Cuaca panas tak kuasa menyemburkan birahi menggelora ke dalam paru-paru kota, menciptakan atmosfer yang lembab dan sayu. Sebuah bis besar dengan logo PPD 213 (jurusan Kampung Melayu-Grogol) melintas dinamis mengisi relung jalanan ibukota yang mempesona. Slipi. Semanggi. Sudirman. Semua tampak lengang. Hasil manifestasi hari kerja yang terjepit di antara 1 hari raya nasional dan hari minggu. Lengang. Bus besar usang itu berpacu dengan teriknya langit Jakarta, menghasilkan bilur-bilur karbon menghiasi langit kelabu ibukota.

    Di dalamnya, puluhan onggok homo sapiens saling merapat membentuk barisan tak beraturan bak pepes jamur yang overcooked dalam pinggan panas di atas si api biru technogas. beberapa diantaranya asik tertidur pulas, menciptakan pandangan yang paradoks dari luar. Lainnya asik berdengus satu sama lain, kebisingan bercampur dengan lalu lalang kendaraan sekitar. 2 spesies yang berdandan lusuh dan stagnan menciptakan melodi yang sama sekali tidak anggun. Sahut-sahutan gitar berpadu dengan suara yang out of pitch membuat sekelilingnya terperanjat. Tidak ada yang protes. Semua seakan asik mendengarkan 2 bibir bersenandung lagu-lagu teranyar band-band ibu pertiwi.

    Seorang manusia menatap syahdu ke langit Jakarta, menciptakan pemandangan yang patriotik apabila diabadikan dari sudut tertentu. pandangannya klasik. Ironis, tapi sama sekali tidak eksotis. Beberapa kali jari jemarinya asik memencet tuts-tuts ponsel, tetapi pandangannya tetap statis ke depan. Senyum tak nampak. Bilur-bilur keringat menghiasi dahi (dan mungkin ketiaknya). Dengan wardrobe yang rangkap-rangkap ala harjuku gagal, ia terlihat sangat paradoks pada lingkungan dengan temperatur yang tropis ini (lebih ke suhu gurun). Dialah saya.

    Wuss.. Wass. Wess.. Critttt (anggap saja ini bunyi rem berdecit).. Bus berhenti tepat 2m di depan halte Bundaran HI. Si manusia kemeja rangkap (untuk lebih lanjut, kita panggil dia: Saya) turun dengan tampak blur ala preman gagal. Sayapun melintasi air mancur buatan produk lokal paling mahal satu pulau. Air mancur itu terlihat gagah di tengah kebisingan kota yang bisu. Manusia di bawahnya terlihat sangat kecil pada foto satelit.

    Saya berjalan dengan gagap dan tergesa-gesa (berusaha menyeimbangkan kehidupan kota yang serba cepat) menuju ke pusat perbelanjaan paling prestis yang sudah establish beberapa tahun silam. Plaza Indonesia orang menyebutnya (atau memang namanya demikian)..

    Saya masuk dengan gagah bak eksekutif muda yang sedang ingin makan siang di kafe2 yang sekali makan bisa sampai 2 sks per semester kuliah saya. Dengan dandanan ala anak kuliahan, saya terlihat sangat rakyat di lingkungan itu. Lalu lalang manusia high end metropolis asik bergerumul satu sama lain. Tangan kiri memegang PDA, tangan satunya lagi sibuk utak atik tuts ponsel. Sibuknya manusia-manusia ini.

    Saya yang sangat sederhana ini, datang dengan tas gembol ransel dan tidak untuk ajang pamer. Saya ingin mencari buku. Lihatlah betapa mulianya tujuan anak ini, pasti orang tuanya sangat bangga menyekolahkannya di salah satu fakultas paling mahal se jakarta barat. Mata saya memang susah untuk dibungkam.

    Siang itu pemandangan terlihat begitu ironik bagi saya. sayapun tak bisa menahan libido untuk melakukan aktifitas paling memalukan yang bisa dapat saya lakukan. Memperhatikan orang. Otak saya langsung berputar keras (lebih keras daripada ujian akhir), dan bibir iblis ini rasanya sudah siap menyemprotkan bisa yang menyengat. Dosa memang. Saya tahu, Tuhan Maha pengasih, jadi biarkanlah hambaNya yang berdosa ini melakukan kenistaannya sejenak. Lalu lalang manusia itu terlihat sangat cliche tapi modern di benak saya, menciptakan ilustrasi balada yang apik.

    Siang itu pukul 14.30, waktu yang paling menyebalkan bagi manusia kantoran. Tidak ada aktifitas paling produktif selain bergosip.
    Pemandangan terlihat pada salah satu resto di lantai 3.

    Bakerzin.

    Tertangkap kamera mata saya selama sekitar 20 detik melewati kawasan itu, tetapi cukup untuk terekam seumur hidup. Dan mata elang ini, menatap statis pada pemandangan itu. Empat nyonya muda asik berselonjor di sofa maroon (yang terlihat empuk dan nyaman bagi saya). Usianya middle 30s. Mengingatkan saya pada sex n the city. Dandanannya lavish. Quite obvious untuk membuat orang lain di sekitarnya menoleh. 2 Bottega venetta shocking yellow tergeletak manis di paha mereka yang sintal (cukup mampu menarik perhatian saya yang buta mode ini. Entah produk Tajur, bogor atau hasil buruan mereka di butik resmi di lt dasar). Meja makan yang sempit itu penuh sesak dengan piring kosong dan gelas-gelas yang sayangnya juga kosong (mereka terlihat kenyang).
    Di bawah meja, bersandar kantong
    belanjaan buruan butik2 ternama di plaza ini. Mereka asik bergosip. Entah apa yang mereka bicarakan. Nyonya paling ujung terlihat memegang sebuah tabloid gossip terbitan luar negeri. Nyonya ini terlihat paling distinct. Impudent look, cruel, nasty, bitch. Tangan kirinya asik memilir2 rokok putih. Bayangan saya ia adalah seorang istri muda dari pengusaha batu bara (Saya perkirakan dari kulitnya yang sangat tropis, brownish tanned, glossy pula) yang menjadi ibu tiri bagi anak-anak dari istri pertama (biasanya istri pertama digambarkan sangat soleh dan sederhana). Wardrobenya mungkin yang paling menggemparkan untuk ukuran lunch, dan bottega mahal itu tergeletak kaku tak jauh dari pahanya. Posisinya pun tampak diatur sedemikian rupa, sehingga orang yang melihat dari sudut manapun akan tahu bahwa itu bottega. Wajahnya oriental. bentuk-bentuk operasi sangat kental menghiasi pemandangan wajahnya yang sangat tidak kreatif (bisa saya perhatikan, tipe-tipe tante operasi plastik, wajahnya hampir mirip satu sama lain. Mongoloid type. Khas seperti anak syndrome cri du chat, trisomi 21). Fake banget deh. Alisnya gak nahan (sudutnya dibuat sangat menukik (lebih menukik dari smash Lin Dan, pemain bulutangkis no1 sedunia itu), dan boldnya tipis. Membuatnya terlihat seperti boneka barbie (made in China) dikeroyok satu kecamatan. Memang tidak bonyok sana sini, tapi lekukan-lekukan operasi plastiknya sangat tidak fantastis. Saya kecewa apabila jadi suaminya. Oh, atau mungkin dia janda tajir ditinggal mati suaminya (yang pembunuhannya direncanakan sendiri). tapi tetap, bila di zoom out dialah yang paling stellar (diantara keempat teman sejenisnya).


    Anggap dia tante A. Sampingnya Tante B, saya kurang memperhatikan dia, karena pesona Tante A lebih dahsyat sehingga tante B terlihat standar dibandingkan yang lain. di sampingnya Tante C dan Tante D juga terlihat kalah dari tante A.

    Tante C mengenankan tank top kuning telur ayam yang mengandung omega 3, berpadu manis dengan rok garis-garis kue lapis. Dan yang paling dapat dibanggakan oleh tante C adalah rambut blonde nya yang tertata apik di atas tenggorak berselaput daging itu.. Kuning kecoklatan. Susah didescribe. Warnanya lebih ke arah daun kelor yang hangus dibakar mentari, siap panen. Detail kriwelnya juga sangat apik, seperti kwetiau basah yang direbus pada suhu 1000 Fahrenheit, lalu digiling di atas becak. Ketinggiannya pun tak main-main. Terletak beberapa belas sentimeter di atas dahi, membuat tante C siap dianugerahi Nyonya Sasak 2008..

    Mungkin di antara mereka berempat, tante D lah yang paling manusiawi buat kelas saya. Blouse kuning dengan pantalon hitam sungguh membuat Tante D paling sederhana. Tidak ada yang bisa saya describe dari Tante D, hanya parasnya yang alami (entah keajabian botox atau karena Tante D yang sangat tidak ambil pusing dengan stress yang kerap menggemparkan urbanista jakarta. Mungkin Tante D adalah peminum Jamu Awet Muda pikir saya). Tidak ada rokok di tangan, duduknya pun terlihat natural. Sangat mencerminkan wanita-wanita tempo doeloe yang hanya berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Anggun. Elegan tapi tidak kampung. Benar-benar sangat manusia ( lebih manusia dari Tante A yang berparas seperti ET dari planet Saturnus). Saya bayangkan Tante D adalah seorang ibu rumah tangga, pekerja keras, memiliki keluarga kecil bahagia, seakan hidupnya hampa dan jauh dari nestapa. terangkum manis, persis salah satu gambar di buku PPKN. Apabila mereka dijadikan serial tivi (yang mungkin ratingnya 0%), tante D lah yang dijadikan karakter utama oleh saya (selaku produser, critanya)..

    Yang membuat panorama sekian detik itu menjadi memorial picture adalah keempatnya mengenakan outift yang senada. Berbagai jenis kuning. Dari kuning sunkist sampai kuning minyak kelapa sawit. Menggelikan memang. Entah ada iblis apa di samping. Saya melihat mereka tak lebih dari tontonan dakocan yang disajikan oleh serial tivi paling anyar tahun ini..

    Gambar bergerak itu terekam sangat cepat dan mendalam. Kenangannya merasuk ke sukma. Candunya masuk melejit sampai ke ubun-ubun, menciptakan manifestasi dahsyat akan dakocanisme tante-tante arisan Grade A ibukota (ah, hanya Tante D yang merupakan exceptional dari grombolan spesies sosialita itu)
    Ya Tuhan, ampunilah hambaMu yang berbibir tajam kuadrat pangkat tiga ini.. hihihi...
    Saya masuk ke kinokuniya dengan langkah lesu seakan baru kalah dari bandar Vegas. Segera berdalih dan berjingkat-jingkat dengan nafsu segesit lokomotif dan sekencang Rama yang mengejar Shinta. Sampailah saya di rak besar. Di samping saya berdiri seonggok daging berusia sekitar 40an. Di sampingnya satu onggok daging kecil melekat manis di sampingnya. Keduanya betina. Sang induk cas cis cus melempar berbahasa Paman Sam dengan semerawut (persis hiruk pikuk yang terjadi di pasar Inpres, ketika tukang beras sedang tarik urat dengan tenggulak setempat). Padahal outfitnya sungguh tidak mencerminkan kesemerawutan. Tampangnya sangat tropis (serasa disengat malaria di Timor Timur), kulitnya tanned hitam. Saya berasumsi dia adalah WNI yang menikah dengan makhluk kaukasoid.Dandanannya manis. Semanis Crispy Creme yang bisa membuat saya terkena Diabetes Mellitus sekejap. Anting bisa berdiameter 5 cm, emas. Bajunya merek ternama (entah bagaimana saya bisa menyimpulkan ini, karena memang terlihat mahal. Entah barang Mangga dua kualitas AA atau butik asli). Sepatunya runicng dan jenjang. tapi Tidak seruncing bibir ini, tapi saya rasa bisa diajak berduel dengan Ratu Felisha.. Tangannya memeluk erat betina muda yang berparas tidak sama (si betina muda seperti campuran susu low fat dengan kopi tubruk. parasnya menciptakan paduan cantik east meet west). Jarak saya dengannya hanya beberapa meter. mungkin 1 meter, dan mata saya yang stretoskopik ini dan kuping saya yang sangat permeable, mampu menanggkap gerakan sekecil apapun dari sang betina tua itu.

    Mereka asik cas cis cus, cekakak cekikik bahasa tumplek tublek. Indonesia dengan akses inggris memang terasa gatal di telinga. Ingin rasanya saya garuk dengan parang. Ah, balada dan fenomena Cinta Laura. Com'on.. Tren gaul 2008 adalah jika anda berbicara dengan lidah meliuk liuk seperti penari ular dan banyak dibumbui bahasa inggris. Memang terbukti ampuh. Rasanya kasta sosial anda naik beberapa tingkat. Anda akan terlihat sangat mewah dan well educated. Yang membuat adegan 2 onggok betina itu terlihat lucu di mata saya adalah percakapan mereka yang sangat impresif dan membuat saya ngakak terjelembab dalam imajinasi saya. Mereka asik bergosip (lagi-lagi gosip. Mengapa gosip selalu menjadi sesuatu yang asik untuk dikerjakan sih?) tentang selebriti dan melihat-lihat majalah impor, yang sayangnya selalu disegel oleh pihak toko buku.
    Sang induk menunjuk2 foto2 front page dari salah satu majalah impor ternama, sang anak membalas dengan tawa. Lalu keduanya asik bersenda gurau liar. Persis seperti adengan 2 kucing liar di Afrika mengejar mangsa. Keduanya berjalan dengan langkah yang tegap. Lantai parkit Kinokuniya berdentum dengan sepatu hak 2 mahkluk betina itu. Menciptakan irama yang tetap. Cetak cetok cetak cetok. saling berlomba. Gaduh. dan lagi-lagi gambaran itu terekam jelas dalam memori saya. Benar-benar kejadian yang membuat saya bergeleng-geleng dan mengelus dada saya (tak tak bergunung ini)..
    Oh ya, FYI, saya tidak jadi membeli bukunya, karena setelah melalui pemikiran dan musyawarah yang alot buat apa saya membeli buku yang pastinya akan jarang saya baca. Ok. Pemandangan seperti itu terus berlanjut di sepanjang plaza yang distinct satu negara ini. Wara-wiri yuppies2 ibukota berjalan manis menyusuri butik-butik di plaza indo. Semuanya terlihat glam. Seakan hidup tanpa beban.
    Ah, benar-benar sebuah drama. Beberapa pria kosmoplit dengan dandanan metroseksual mewarnai salah satu lorong. Di lain lorong, gadis-gadis 20an juga tak mau kalah. Dengan gaya ala Carrie bradshaw and the geng, mereka berjalan 1 baris asik tertawa senda gurau. Palsu. Saya berada di tengah-tengahnya. Tepat di main atrium plaza Indonesia menyaksikan sebuah drama ibukota yang penuh dengan gegap gempita. Tak kalah dengan urbanista newyorkers, Tokyoers, Milaners, dan berbagai kota hip seantero bumi. Paradoks memang melihat betapa wah nya suasana di dalam plaza ini, sementara tak jauh beberapa ratus meter berbanjar bangunan kumuh nan renta asik seakan tak mau kalah ikut mewarnai gemerlapnya Jakarta. Cercaan dan hinaan saya mungkin akan menjadi bumerang ketika suatu saat nanti saya menjadi salah satu pelaku dunia kosmopolit ibukota.
    Ah, mungkin semua ini hanya sirik tanda tak mampu. Tapi satu yang pasti, ya Tuhan, jauhkanlah saya dari drama yang baru saya saksikan. Menjadi diri sendiri (basi banget deh), tapi tetap tak mau kalah ikut andil dalam memberikan warna bagi dunia sosialita ( observer aja mungkin)..

    Zarathurza fumbled with Zarathurza @ 3:05 PM | 3 who have taste :

    3 comments in delicate hands:

    At 03 July, 2008 22:02, Blogger AlvaNiacS had patient mind to ask and said...

    OHMAIGAT.
    ada ya, yg baca bener2 ni postingan?

    gwe sih cuma selintas lalu, terus semuanya cuma tampak garis garis biru.. huhuu (sok rhyming)

    eniwei, selamet deh buat 'reborn' blog elo... makin ada aja deh sarana narsis lo..

     
    At 14 August, 2008 12:59, Anonymous B had patient mind to ask and said...

    Gila..Postingan ini bener2 gila..Loe yang gila maksudnya..

    Kalo kata uzman, "JIWA! Sakit Jiwa ya loe.." atau "swt.." atau simply "...".

     
    At 22 September, 2008 01:41, Blogger stefan's diary had patient mind to ask and said...

    segar, menggelitik, ekpresif...

    membuat gw terpingkal-pingkal di jam 2 pagi!!! hahaha.. so fresh!! GO MARSHAL!!!


    btw, congratzz bwt new look blog loe yang miriiiippp banget ama blog skin gw..*agh,,. ikut2 loe shal.. ^^

     

    Post a Comment

    << Home